Loading...

Rabu, 28 Desember 2011

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA CERPEN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN SQ3R PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 4 MATARAM TAHUN PEMBELAJARAN 2010/2011

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Penelitian
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membina pembangunan bangsa. Oleh karena itu, yang menyangkut masalah pendidikan telah digariskan dalam undang-undang pendidikan yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman luas. Salah satunya diwujudkan dengan didirikannya sekolah-sekolah yang dapat mengubah moral, pendewasaan anak, dan meningkatkan intelektual masyarakat, sehingga tercapai keadaan yang normal, aman dan terkendali. Selain pendidikan sekolah, kita juga dapat belajar di luar sekolah yang disebut dengan nonformal.
Dalam undang-undang nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Oleh karena itu, sarana dan prasarana pendidikan perlu ditingkatkan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Dengan demikian perlu usaha untuk menigkatkan, mengefektifkan dan lebih mendayagunakan penggunaan cara atau tehnik-tehnik pembelajaran siswa sebagai bagian integral dalam proses belajar mengajar. Dalam proses belajar mengajar bidang studi bahasa Indonesia dibutuhkan adanya komunikasi antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa. Komunikasi hendaknya bersifat interaktif edukatif dan timbal balik yang harus dicapai oleh guru dan siswa. Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah adalah untuk melatih siswa agar mempunyai kemampuan dan keterampilan dalam hal membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. Keempat aspek pembelajaran tersebut dalam pembelajaran hendaknya dilakukan secara terpadu dengan pendekatan proses dan pendekatan hasil.
Dari keempat keterampilan tersebut, keterampilan membaca merupakan salah satu keterampilan yang diajarakan di sekolah dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Membaca merupakan suatu aktivitas yang sangat jamak dilakukan oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun, serta tujuan melakukan aktivitas membaca pun sangat bervariatif, walaupun bisa dikatakan  secara sederhana bahwa tujuan umum membaca adalah untuk memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya di samping juga untuk mencari hiburan semata.
Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca bukanlah kegiatan memandangi lambang-lambang tertulis semata-mata. Bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh seorang pembaca agar dia mampu memahami materi yang dibacanya. Membaca merupakan interaksi antara pembaca dan penulis. Interaksi tersebut tidak langsung, namun bersifat komunikatif. Komunikasi antara pembaca dan penulis akan semakin baik jika pembaca mempunyai kemampuan yang lebih baik.
Dewasa ini, membaca merupakan kegiatan yang dianggap membosankan, apalagi buku yang dibaca itu adalah buku pelajaran. Dalam membaca, banyak sekali masalah-masalah yang kita temukan, misalnya ketika membaca satu atau dua lembar penuh tulisan tetapi tidak satupun ide yang diperoleh dari bacaan itu, ketika membaca pikiran kita melayang kesana-kemari, sukar konsentrasi, padahal mata tetap tertuju menyusuri tulisan demi tulisan.
Melihat hal di atas, maka demikian juga yang tejadi pada keterampilan membaca yang diajarkan dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, khususnya pada siswa SMK Negeri 4 Mataram, dan dalam hal ini adalah khususnya dalam pelajaran membaca cerpen.
Berdasarkan pengamatan dari observasi yang telah dilakukan di SMK Negeri 4 Mataram, kemampuan siswa dalam membaca cerpen masih rendah apabila dilihat dari hasil observasi, dan nilai-nilai siswa dalam pelajaran membaca cerpen. Berdasarkan pengamatan tersebut dari observasi di kelas, siswa terlihat masih mengalami kesulitan dalam  menentukan tema cerita, kesulitan dalam mengulang kembali bacaan yang telah diberikan dengan tidak melihat bacaan tersebut . Melalui wawancara dengan guru, guru mengaku bahwa beberapa siswa sangat jarang membaca cerpen sehingga kurang menguasai atau mengetahui isi cerita dari cerpen tersebut. Kemudian dilihat dari nilai, nilai siswa juga tergolong masih rendah dalam pelajaran membaca  cerpen. Siswa cenderung tidak lancar dalam menceritakan kembali bacaan atau cerita pendek yang telah dibacanya. Padahal, melalui kegiatan membaca cerpen tersebut, siswa diharapkan mampu menentukan atau mengingat kembali hasil bacaannya. Hal ini disebabkan karena guru dalam melakukan pengajaran hanya menggunakan teknik-teknik yang umum yang biasa digunakan, misalnya ceramah.
Melihat kondisi tersebut digunakan sebagai alasan untuk penerapan teknik pembelajaran SQ3R sebagai upaya meningkatkan kemampuan membaca cerpen pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Mataram  tahun pembelajaran 2010/2011. Teknik pembelajaran ini memungkinkan siswa belajar aktif dalam mencari konsep-konsep atau penyelesaian suatu masalah melalui pengalaman-pengalaman belajar sebelumnya. Diharapkan dengan metode ini  hasil belajar siswa meningkat sesuai dengan harapan guru sebagai fasilitator.
Teknik SQ3R merupkan teknik yang terdiri dari lima langkah yaitu: Survey, Question, Read, Recite, Review. (Soedarso, 2002:59) mengemukakan bahwa langkah-langkah membaca dalam teknik SQ3R merupakan langkah-langkah yang sistematis yang harus dilakukan seorang pembaca agar pemahaman terhadap isi bacaan menjadi lebih baik.
Penggunaan teknik membaca terutama SQ3R sangat diperlukan dalam pembelajaran membaca di sekolah. Adapun yang menjadi pertimbangan adalah: bahwa teknik ini memiliki langkah-langkah yang sistematis sehingga siswa lebih mudah memahami isi bacaan, penerapan teknik SQ3R membuat siswa lebih aktif dalam proses membaca.
Adapun problematika yang dihadapi oleh sekolah adalah guru tidak pernah menerapkan metode pembelajaran dengan teknik SQ3R. Sehingga dalam hal ini, siswa belum pernah juga menerapkan teknik SQ3R pada kegiatan membaca. Hal ini sangat berpengaruh pada siswa khususnya pada tingkat pemahaman membaca. Untuk itu, perlu diadakan penelitian tindakan kelas (PTK) guna untuk meningkatkan kemampuan membaca cerpen dengan menggunakan teknik pembelajaran SQ3R pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Mataram  tahun pembelajaran 2010/2011.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah diatas, agar permasalahan dalam penelitian ini lebih berfokus dan berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
a.       Bagaimanakah aktivitas guru dan siswa selama pelaksanaan pembelajaran membaca cerpen dengan menggunakan metode pembelajaran SQ3R pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Mataram tahun pembeajaran 2010/2011?
b.      Bagaimanakah hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran membaca cerpen menggunakan metode SQ3R pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Mataram tahun pembelajaran 2010/2011?


C.      Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca cerpen dengan menggunakan metode pembelajaran SQ3R pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Mataram  tahun pembelajaran 2010/2011.
Secara terperinci tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah:
1.      Untuk mengetahui bagaimanakah aktivitas guru dan siswa selama pelaksanaan pembelajaran membaca cerpen dengan menggunakan metode pembelajaran SQ3R pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Mataram tahun pembeajaran 2010/2011?
2.      Untuk mengetahui bagaimanakah hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran membaca cerpen menggunakan metode SQ3R pada siswa kelas XI SMK Negeri 4 Mataram tahun pembeajaran 2010/2011?

D.      Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dilakukannya penelitian tindakan kelas  ini adalah:
1.      Bagi Siswa
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan akan dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa, meningkatkan motivasidan kreativitas,serta meningkatkan pengalaman dan pengetahuan siswa di dalam membaca cerpen dengan menggunakan teknik pembelajaran SQ3R.
2.      Bagi Guru
Dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini guru diharapkan dapat mengetahui atau menerapkan teknik pembelajaran SQ3R untuk meningkatkan kemampuan membaca cerpen dan dapat menambah kreativitas guru dalam memberikan pelajaran karena menguasai teknik pembelajaran yang bervariasi.
3.      Bagi Sekolah
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi sekolah, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya dalam pelajaran membaca dengan menggunakan teknik pembelajaran SQ3R dapat memberikan kontribusi yang baik bagi sekolah yang bersangkutan dalam rangka terciptanya pembelajaran yang bervariasi dan munculnya kondisi yang kondusif sehingga siswa mempunyai kemauan dan pengetahuan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.      Penelitian Terdahulu
Penelitian ini tidak terlepas dari penelitian terdahulu yang memberikan inspirasi kepada peneliti untuk mengetahui dan mencari solusi bagaimana meningkatkan kemampuan membaca cerpen pada pelajaran bahasa Indonesia.
            Kusumayanti (2008) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Kemampuan Membaca Terhadap Hasil Belajar Dalam Memahami Isi Cerpen Pada Siswa Kelasa X-B SMA 1 Pujut Tahun Pelajaran 2008/2009”, menyimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar siswa terhadap kemampuan membaca. Hal ini berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan, dapat dilihat bahwa nilai membaca mencapai 64,4 atau 65 sedangkan nilai pemahaman rata-rata mencapai 69. Dengan demikian, maka secara kuantitatif rata-rata nilai membaca 66,7.
            Karso (2008) dalam penelitian yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Membaca Puisi dengan Tekhnik Jigsaw pada Siswa Kelas VIII-A SMPK Mataram Tahun Ajaran 2008/2009”, menyimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan hasil belajar siswa terhadap kemampuan membaca puisi. Penelitian tindakan kelas sebelumnya digunakan teknik jigsaw adalah 20% setelah digunakan teknik jigsaw pada siklus I dan II maka dapat terlihat kenaikan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 10,54% yaitu dari 50% menjadi 60,54% dan nilai rata-rata kelas meningkat.
            Hartati (2008) tentang “Peningkatan Daya Serap Pembelajaran Membaca Melalui Pemodelan di Kelas XI SMA PGRI 5 Bima Kec. Sape Tahun ajaran 2006-2007” menyatakan bahwa pada umumnya siswa memiliki minat yang sangat rendah dalam kegiatan membaca. Dalam upaya meningkatkan daya serap belajar siswa dilakukan dengan cara menginventarisir data berupa hasil tes belajar yang dikumpulkan melalui pendekatan ketuntasan belajar dan dianalisis secara diskriptip. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Pelaksanaan pada siklus I mendapat nilai rata-rata 66,5 rata-rata pencapaian kelas (klasikal) 74,28% untuk ketuntasan belajar dalam pembelajaran membaca pada pokok bahsan membaca intensif dengan metode pemodelan belum terlihat maksimal sehingga perlu ditingkatkan lagi pada siklus berikutnya. Faktor yang menghambat adalah ; tidak memberikan penekanan pada terhadap materi tidak bergairah mengikuti pelajaran dan tidak aktif dalam mengikuti pelajaran, sedangkan pelaksanaan pada siklus II diperoleh nilai 73 untuk rata-rata klasikal 91,42% untuk ketuntasan belajar atau pencapaian daya serap siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran membaca melalui pemodelan dapat meningkatkan daya serap siswa. Seluruh judul penelitian diatas membuktikan bahwa penelitian tentang keterampilan membaca sudah banyak dilakukan walaupun berbeda-beda teknik dan metode yang digunakan, namun penelitian-penelitian tersebut hasilnya mengalami suatu peningkatan. Oleh karena itu, upaya peningkatan masih perlu dikembangkan dan dilakukan, sebab ilmu bahasa akan selalu berkembang dan membutuhkan banyak strategi dan metode-metode baru dalam pembelajarannya.
            Sekian banyak penelitian tentang membaca hingga pada saat ini, selalu masih bisa dilakukan penelitian-penelitian sejenis, tentunya dengan strategi dan metode yang berbeda sesuai dengan perkembangan ilmu bahasa dan teknologi. Peneliti menganggap penelitian tentang pembelajaran membaca dengan metode SQ3R sebagai penelitian baru yang membantu keberhasilan siswa pada evaluasi membaca, sebab SQ3R merupakan metode yang jarang digunakan guru dalam pembelajaran membaca. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penelitian terdahulu lebih memfokuskan pada pembacaan wacana sedangkan pada cerpen baru dipakai sekarang ini dan metode SQ3R merupakan suatu metode membaca untuk kepentingan studi yang meliputi lima tahap kegiatan yaitu survey, question, reading, recite, dan review.
            Pada dasarnya untuk pembelajaran siswa SMP perlu diterapkan metode belajar yang tepat dan menyenangkan sehingga tumbuh rasa senang terhadap apa yang dipelajari. Adanya rasa senang, mendasari seorang siswa siswa lebih berminat beraktivitas. Dengan menumbuhkan rasa senang inilah menjadikan awal tumbuhnya minat membaca siswa.

B.       Pengertian Kemampuan
Kemampuan mempunyai banyak penafsiran dari berbagai pendapat. Menurut Alwi  dkk (2003:707) kata kemampuan ialah kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Kata kopetensi atau kemampuan biasanya diartikan sebagai “kecakapan yang memadai untuk melakukan tugas serta memiliki keterampilan dan kecakapan yang diisyaratkan dalam pengertian yang luas, ini jelas bahwa setiap cara yang digunakan untuk mencapai tingkat kemampuan ialah untuk mengembangkan manusia bermutu dan memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan sebagaimana yang diisyaratkan (Suparno dalam Indrayani 2006: 7).
Menurut Robbins dalam Eman (2008), kemampuan merupakan kesanggupan sejak lahir atau merupakan hasil latihan. Lebih lanjut robbin menyatakan bahwa kemampuan terdiri dari dua faktor, yaitu kemampuan intelektual dan kemampuan fisik. Kemampuan intelektual adalah merupakan kemampuan melakukan aktivitas secara mental dan kemampuan karakter fisik. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa kemampuan adalah suatu tekad yang di ikuti dengan keseriusan, keinginan, tidak pernah mau menyerah, demi tercapainya sesauatu yang diinginkan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan suatau kepuasan serta menghasilkan suatu yang maksimal.

C.      Membaca
Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa selain menyimak, berbicara dan menulis. Membaca memiliki beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Farris (1993:304) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemahaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
Menurut Syafi’i (1999:7), membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, sedangkan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Dalam KBBI (2000:62), definisi membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, yang dibaca secara lisan atau dalam hati.
Dengan melihat beberapa definisi yang telah dikemukakan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian membaca adalah proses pemahaman atau penikmatan terhadap teks bacaan dengan memanfaatkan kemampuan melihat (mata) yang dimiliki oleh pembaca, sesuai dengan tujuannya yang dilakukan secara nyaring atau dalam hati.
Selain memiliki pengertian seperti yang telah dikemukakan di atas, membaca juga memiliki tujuan. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan membaca adalah mendapatkan informasi, memperoleh pemahaman, memperoleh kesenangan. Sedangkan secara khusus, tujuan membaca adalah memperoleh informasi faktual, memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis, memberikan penilaian kritis terhadap karya tulis seseorang, memperoleh kenikmatan emosi, dan mengisi waktu luang (Nurhadi, 1987:11). Namun lebih lanjut lagi, Nurhadi (1987) yang mengutip pendapat Waples (1967) menuliskan bahwa tujuan membaca adalah: (1) Mendapat alat atau cara praktis mengatasi masalah, (2) Mendapat hasil yang berupa prestise yaitu agar mendapat rasa lebih bila dibandingkan dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya, (3) Memperkuat nilai pribadi atau keyakinan, (4) Mengganti pengalaman estetika yang sudah using, (5) Menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan, atau penyakit tertentu.
Selain itu, diungkapkan oleh Nurhadi (1987) bahwa tujuan membaca akan mempengaruhi pemerolehan pemahaman bacaan. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin kuat tujuan seorang dalam membaca, maka semakin tinggi pula kemampuan orang itu dalam memahami bacaannya. Jadi, membaca menurut penulis adalah suatu kegiatan untuk memahami suatu bahan bacaan untuk memperoleh suatu ilmu pengetahuan.

D.      Cerpen
Cerpen atau cerita pendek dalam hal ini memiliki banyak penafsiran. Cerita pendek bukan ditentukan oleh banyak halaman untuk mewujudkan cerita tersebut atau banyak sedikitnya tokoh yang terdapat di dalam cerita itu, melainkan lebih disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk karya sastra tersebut. Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu dapat digolongkan ke dalam jenis cerita pendek, jika ruang lingkup dan permasalahan yang diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek (Suharianto dalam Septiani 2007: 16)
Selanjutnya Suharianto dalam Septiani (2007: 16) juga menambahkan bahwa “cerita pendek adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik perhatian pengarang”. Jadi sebuah cerita senantiasa memusatkan perhatiannya pada tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol dan menjadi tokoh cerita pengarang, dan juga mempunyai efek tunggal, karakter, alur, dan latar yang terbatas.
Cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression “pemadatan” consentrasen “pemusatan” dan intensitif “pendalaman”, yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas strutural yang disyaratkan oleh panjang cerita itu. (Indrayani 2006: 10)
Robert Stanton (2007:76) berpendapat satu yang terpenting cerita pendek haruslah berbentuk ‘padat’. Jumlah kata dalam cerpen harus lebih sedikit ketimbang jumlah kata dalam novel, dalam cerpen pengarang mencipatakan karakter-karakter, semesta mereka dan tindakan-tindakannya sekaligus, secara bersamaan. Umumnya, pembacaan cerpen membutuhkan waktu singkat. Cerpen hanya dilengkapi dengan detail-detail terbatas sehingga tidak dapat mengulik perkembangan karakter dari tiap tokohnya, hubungan-hubungan mereka, keadaan sosial yang rumit, atau kejadian yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama dengan panjang lebar.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut jelaslah bahwa sebuah karangan pendek tentang keadaan di pasar bukanlah sebuah cerpen. Tetapi karangan tentang di pasar itu akan menjadi sebuah karangan jika di dalamnya dijalani sebuah peristiwa, suatu kejadian yang menyangkut persoalan jiwa salah seorang atau beberapa suatu cerita yang melukiskan suatu peristiwa apa saja yang menyangkut persoalan jiwa atau kehidupan manusia.
Sebagaimana sebuah fiksi, cerpen memiliki unsur intrinsik cerita seperti tema, alur, perwatakan, latar, ketegangan, sudut pandang, kesatuan, dan gaya bahasa. Selain itu cerpen memiliki struktur cerita, tetapi susunan ceritanya tidaklah mutlak harus mengikuti suatu pola. Ada pengarang yang memakai pola struktur cerita tradisional: pengenalan, pertikaian, penyelesaian, ada juga yang memulai dengan pertikaian, pengenalan dan penyelesaian. (Indrayani 2006:11).
Menurut kualitas isinya, cerpen dibedakan atas cerpen serius (bermutu sastra) dan cerpen popular. S. Tasrif (dalam Lubis, 1960: 13-14) menyebutkan dengan istilah quality story dan commercial story. Jika keduanya dibedakan maka menurut Tasrif, quality story adalah cerita yang mempunyai harga mensastraan; pekerjaan yang sungguh-sungguh dari pengarangnya dalam mencurahkan buah kalbu dan pikiran demi kualitas sastranya. Sedangkan commercial story merupakan cerita yang dijual untuk mencari uang dan bercirikan plot yang kocak, bahasa romantis, menampilkan tema percintaan.
Cerpen ialah karya sastra berbentuk prosa yang isinya merupakan kisah pendek yang mengandung kesan tunggal (Sumardjo, 2007: 16). Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan tiga hal, yang sekaligus dapat dijadikan ciri-ciri cerpen disamping ciri-ciri lainnya. Pertama; cerpen merupakan bentuk karya sastra yang berbentuk prosa. Kedua; cerpen merupakan kisah yang pendek. Ketiga; cerpen mengandung kesan tunggal.
Artati dalam Faesal (2009: 11) mengemukakan ciri-ciri cerpen sebagai berikut: (1) Panjang kisahan lebih singkat daripada novel, (2) Alur ceritanya rapat, (3) Berfokus pada satu klimaks, (4) Memusatkan cerita pada tokoh, waktu, dan situasi tertentu, (5) Sifat tikaiannya dramatik, yaitu berintikan pada pembenturan yang berlawanan, (6) Semua tokoh ditampilkan pada satu latar.
Wiyanto (2004;100) juga mengemukakan ciri-ciri cerpen yang tidak jauh berbeda dengan ciri-ciri yang dikemukakan Artati tersebut, yaitu sebagai berikut: (1) Tema mengupas masalah yang sederhana, (2) Alur (plot) cerita sederhana, (3) Tokoh yang dimunculkan hanya beberapa orang, (4) Latar (setting) yang dilukiskan hanya sekilas dan amat terbatas.
Kedua ciri-ciri yang dikemukakan ini dapat saling melengkapi dan diintegrasikan.Selain memiliki ciri-ciri, cerpen yang juga merupakan salah satu bentuk dari karya sastra dibangun atas unsur-unsur atau komposisi yang menjadikan karya sastra itu memiliki kepaduan dan keutuhan (harmonis). Setiap genre sastra dibangun berdasarkan unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik menurut Nurgiyantoro (2007:23) adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Artinya unsur intrinsik merupakan unsur pembangunan sebuah cerita dari dalam, unsur yang secara faktual yang akan ditemukan oleh pembaca ketika membaca suatu karya sastra. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra.
Adapun unsur-unsur intrinsik yang membangun cerpen sebagai sebuah karya sastra menurut Wiyanto (2005:78-84) adalah sebagai berikut.
1.         Tema
Tema adalah pokok pembicaraan yang mendasari cerita (Wiyanto, 2005:78). Tiap cerita memiliki tema yang berbeda-beda, tergantung permasalahan yang mendasarinya. Terkadang di dalam suatu cerita terdapat lebih dari satu tema. Wiyanto (2005:78) mengatakan, “Meskipun dalam cerita ada beberapa tema, tentu ada salah satu yang dominan”, dan tentu yang dominan itulah yang merupakan tema mendasar dari cerita tersebut.
2.         Plot (Alur)
Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang sambung menyambung dalam sebuah cerita berdasarkan logika sebab akibat. Alur dibedakan menjadi tiga, yakni alur maju, alur mundur, dan alur campuran. Dinamakan plot maju atau alur maju jika peristiwa-peritiwa dalam cerita itu berurutan, baik berurutan waktu maupun berurutan kejadiannya. Dikatakan plot mundur (sorot balik) kalau peristiwa terakhir itu didahulukan kemudian bergerak ke peristiwa-peristiwa sebelumnya. Plot campuran, yaitu apabila susunan peristiwanya ada yang maju dan ada yang mundur.
3.         Penokohan (Perwatakan)
Pemberian watak pada tokoh itu dinamakan perwatakan. Ada dua macam cara perwatakan, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Dikatakan secara langsung bila watak itu disampaikan dengan cara menyebutkan wataknya, misalnya tokoh A itu penyabar, baik hati, dan suka menolong. Masih juga dikatakan secara langsung bila pemberian watak itu dengan menyebutkan keadaan fisiknya, misalnya tokoh A berpenampilan tidak rapi, rambut awut-awutan dan berpakaian sekenanya.
Sebaliknya, perwatakan dinamakan tidak langsung bila cara yang digunakan pengarang dalam memberikan watak tidak terus terang. Pemberian watak tokoh A melalui pendapat dan perbuatan tokoh A tersebut, atau melalui tokoh lain. Mencermati gerak-gerik dan tingkah laku serta sikap dan pendapat seseorang tokoh dalam cerita, pembaca dapat menyimpulkan watak tokoh tersebut.
4.         Setting (Latar)
Tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita dinamakan setting atau latar. Setting mencakup tiga hal, yaitu setting waktu, setting tempat, dan setting suasana. Ketiga setting ini merupakan satu kesatuan yang utuh dan kehadirannya merupakan satu kesatuan juga.
5.         Sudut Pandang (Titik Kisah)
Sudut pandang atau titik kisah (Poin of view) adalah posisi pencerita (pengarang) terhadap kisah yang diceritakannya.
6.         Gaya Bahasa.Cara pengarang menggunakan bahasa secara khas dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan untuk menghasilkan karya sastra. Gaya bahasa dapat menimbulkan perasaan dan reaksi tertentu dalam pikiran pembaca.
7.         Amanat
Amanat merupakan ajaran yang ingin disampaikan pengarang melalui karya sastra (cerpen) yang ditulisnya. Amanat dapat diketahui setelah pembaca membaca suatu cerita secara keseluruhan.amanat harus memberikan pencerahan dan nilai-nilai pelajaran bagi pembaca selain memberikan kesenangan sesuai dengan hakikat fungsi karya sastra seperti yang disimpulkan oleh Horace ( dalam Amir, 2009:17) dulce et utile “menyenangkan dan berguna”. Nilai-nilai yang harus ada dan tidak dapat dipisahkan dalam karya sastra tersebut menurut Esten dalam Amir (2000:7) adalah nilai-nilai estetika, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai yang bersifat konsepsionil, terdiri dari pendidikan pengarang, agama pengarang, pandangan hidup pengarang, latar belakang budaya dan bahasa pengarang, dan keadaan masyarakat pada waktu sastra itu ditulis (Wiyanto, 2005:85).
Selain unsur intrinsik seperti yang telah disebutkan di atas, karya sastra (cerpen, novel, maupun roman) juga dibangun oleh unsur ekstrinsik. Unsur tersebut terdiri dari pendidikan pengarang, agama pengarang, pandangan hidup pengarang, latar belakang budaya dan bahasa pengarang, dan keadaan masyarakat pada waktu sastra itu ditulis (Wiyanto, 2005:85).
E.       Metode SQ3R
Metode adalah cara-cara atau strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya (dalam Ratna, 2008:34). Metode dalam bahasa sederhana adalah suatu cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan.
Metode SQ3R dalam penelitian ini peneliti khususkan untuk membaca teks bacaan berupa cerpen dengan menggunakan prosedur yang sesuai dengan metode SQ3R merupakan singkatan dari survey, question, reading, recite, dan review.
SQ3R merupakan singkatan dari survey, question, reading, recite, dan review. Tampubolon membuat akronimnya dalam bahasa Indonesia menjadi surtabaku yang merupakan akronim dari survey, tanya, baca, katakan, dan ulang. SQ3R merupakan suatu metode membaca untuk kepentingan studi yang meliputi lima tahap kegiatan, yakni melakukan survey, membuat pertanyaan-pertanyaan tentang perkiraan isi bacaan, kemudian diikuti dengan kegiatan membaca, menceritakan kembali apa yang telah dibaca, dan dan diakhiri dengan peninjauan ulang terhadap hasil kegiatan membaca tersebut. Metode ini mula-mula dikembangkan oleh Robinson (1946). Dengan metode ini memungkinkan para siswa untuk belajar secara sistematis dengan bantuan langkah-langkah kerja yang tepat dan efisien.
Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari penggunaan metode ini dalam kegiatan membaca. Pertama, metode ini member kemungkinan pada pembaca untuk menentukan apakah materi yang dihadapinya sesuai dengan keperluannya atau tidak. Jika memang bacaan itu diperlukannya, tentu pembaca akan meneruskan kegiatan bacanya. Jika tidak, pembaca akan mencari bahan lain yang sesuai dengan kebutuhan atau keinginannya. Hal ini dapat dikatakan bahwa pembaca telah melalui tahap pertama dari metode SQ3R, yakni melakukan survei terhadap bacaan yang dihadapinya. Demikian juga di sini dalam cerpen, jika cerpen yang dibacanya tersebut menarik dan sesuai dengan keinginannya, maka siswa atau seseorang yang membacanya akan melanjutkan bacaanya terhadap cerpen tersebut.
Manfaat yang kedua, yaitu metode SQ3R member kesempatan kepada para pembaca untuk berlaku fleksibel. Pengaturan kecepatan membaca untuk setiap bagian bahan bacaan tidaklah selalu harus sama. Pembaca akan memperlambat tempo bacaannya jika menemukan hal-hal yang reletif baru baginya, hal-hal yang memerlukan pemikiran untuk memahaminya, atau mungkin bagian-bagian bacaan yang berisi informasi yang diperlukan pembacanya. Sebaliknya, pembaca akan menaikkan tempo kecepatan bacanya, jika bagian-bagian bacaan itu dipandang kurang relevan dengan kebutuhannya atau mungkin bagian tersebut sudah dikenalinya.
Manfaat yang ketiga, SQ3R membekali pembaca dengan suatu metode studi atau belajar yang sistematis. Belajar dengan menggunakan metode tertentu akan menghasilkan efisiensi dan efektifitas hasil belajar yang lebih baik daripada tidak bermetode. Penggunaan metode ini untuk kepentingan belajar akan menghasilkan pemahaman yang komprehensif, bukan ingatan. Pemahaman yang komprehensif relative akan bertahan lebih lama tersimpan di dalam otak kita daripada hanya sekedar mengingat.
Metode SQ3R memiliki langkah-langkah sesuai dengan singkatannya, yaitu sebagai berikut.
1.      Survey
Survey artinya meninjau, meneliti, menjajaki, yakni membaca bagian-bagian permulaan. Survey bias dilakukan tiga atau empat menit dengan membaca judul, pendahuluan, dan penutup paragraf suatu bacaan sehingga akan mendapatkan ide umum mengenai apa isi dari bacaan tersebut.Bagian-bagian tersebut dibaca dengan teknik skimming, yaitu membaca dengan cepat untuk mengetahui gambaran umum isi suatu bacaan secara menyeluruh.
2.      Question
Sebelum memulai kegiatan membaca, hendaknya pembaca merumuskan pertanyaan-pertanyaan sebagi informasi focus. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memandu pembaca saat melakukan aktivitas baca yang sesungguhnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sebelum kegiatan membaca dapat digali dari prediksi-prediksi pembaca pada saat melakukan survei. Pertanyaan dapat juga muncul karena dorongan atau hasratingin tahu tentang sesuatu hal yang diduga jawabannya akan diperoleh melalui bacaan tersebut. Membaca dengan maksud untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan biasanya lebih sungguh-sungguh dan cermat daripada membaca sekedar untuk membaca.
3.      Read
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan pada tahap question, selanjutnya dilanjutkan dengan kegiatan membaca yang sesungguhnya. Pembaca tidak diharuskan membaca dengan kecepatan yang sama. Hal ini akan ditentukan oleh tujuannya dan karakteristik bahan bacaan yang dihadapinya. Hal inilah yang disebut dengan fleksibelitas baca.
4.      Recite
Recite maksudnya adalah menceritakan kembali. Kegiatan menceritakan kembali isi bacaan yang telah dibaca dilakukan setelah pembaca merasa yakin bahwa sejumlah pertanyaan yang dirumuskan sebelum kegiatan membaca dilakukan telah terpenuhi. Kegiatan menceritakan kembali isi bacaan ini biasanya disertai dengan pembuatan ikhtisar bacaan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan ikhtisar bacaan adalah:
1.      ikhtisar dibuat dengan menggunakan kata-kata sendiri,
2.      ikhtisar dibuat secara singkat, padat, dan jelas, yang mencakup butir-butir penting isi bacaan,
3.      kegiatan ini dilakukan tidak berbarengan dengan kegiatan lain, misalnya mencatat sambil membaca, atau mencatat sambil membuka-buka kembali halaman bacaan.


5.      Review
Review berarti meninjau kembali. Kegiatan meninjau kembali di sini dimaksudkan untuk memeriksa ulang bagian-bagian yang telah dibaca dan dipahami pembaca. Meninjau ulang tidak sama dengan membaca ulang. Meninjau ulang mungkin hanya melihat-lihat bagian-bagian tertentu yang dianggap perlu untuk sekedar menyegarkan kembali ingatannya. Melalui kegiatan peninjauan ulang ini, pembaca bukan sekedar harus merasa yakin bahwa apa yang dibacanya itu telah dikuasai dan dipahaminya, melainkan juga harus merenungkan dan memikirkan tingkat keberterimaan gagasan penulisnya, kelemahan, dan kebaikan sajian suatu bacaan, bila perlu memberikan kritik dan saran untuk penyempurnaan suatu bacaan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar